Lari Sejenak dari Kepenatan Hidup, Kami Escapees!

Entah bagaimana saya akan memulai tulisan ini, rasa campur aduk tatkala akan berpisah dengan orang-orang yang menemani kehidupan bermusik saya selama kurang lebih 6 tahun ini. Ya, tulisan ini saya buat sebagai bentuk apresiasi terhadap dokter-musisi ini. Kata "Escapees" memiliki makna orang yang sedang melakukan pelarian. Kami berlari kabur sejenak dari dunia hiruk pikuk pekerjaan kedokteran untuk bermain musiq. Saya mau menceritakan secara singkat teman-teman saya ini.

1. Cavia: Cewek tersupel di dunia ini adalah rekan bermusik pertama saya selama di Fakultas Kedokteran. Saat itu kami sempat membuat geger dunia permusikan FK di tahun pertama dengan membuat grup akustik bertiga berformatkan gitar-vokal-bass (saat itu bassist kami namanya Jerry, saat ini sedang di Jepang, untuk melanjutkan studinya di bidang farmasi). Kami lalu mulai membangun band yang menjadi cikal bakal dari Escapees. Dari segi musik, cavia punya level musikalitas yang luar biasa. Bayangkan, Dia bisa mengkritisi warna akor dan harmoni meskipun tidak mendalami alat musik apapun. Kalo dari suara tidak perlu diragukan lagi. Menurut gw dia vokalis dengan soul terenak, ada ciri khas karakter yang kuat yang tidak bisa digantikan vokalis manapun. Saya sama Cavia sudah lamaaaa sekali bermain musik bareng. Saking lamanya, saya sampai hafal nada dasar yang pas untuk Cavia dan Chord-chord apa saja yang bagus untuk mengeluarkan potensi terbaik suara Cavia. Secara pribadi, Cavia ini seru, bokep, rame, ngga bisa diajak nganggur dikit, karena pasti suka banget cari kesibukan dan organisasi. Kemampuan interpersonal yang didapat dari organisasi ini, menurut saya, dimanfaatkan dengan baik untuk menghandle berbagai macam penonton saat manggung. Sebagai cewek, yang punya karakteristik moody, doi juga bisa mengatasinya dengan baik. Masalah-masalah pribadi tidak dibawa di atas panggung. Begitu turun panggung, baru deh cerita-cerita. Saat ini, Cavia sedang melanjutkan studinya ke negeri seberang (UK), edan memang. Goodluck yaa cav dengan segala mimpi2 lo, i'm sure you can nail it!

2. Yodi: Saya ingat betul, dulu setiap saya, Cavia dan Jerry latihan di studio bertiga, selalu ditemani Yodi. Kadang ditanya ngapain datang ke sini, jawabannya, "pingin lihat kalian main," atau "buat seru-seruan aja, kabarin ya kapan kalian latihan lagi." Setelah diusut, Yodi memang ingin bergabung dengan grup kami, tetapi saat itu doi belum terlalu menguasai instrumen musik. Saat itu pernah dicoba untuk drum, tetapi masih belum cocok. Hingga tiba di mana saat Jerry pindah ke Jepang, sementara ada tawaran manggung di acara fakultas. Saat itu saya dan Cavia cukup memutar otak dalam mencari personil pengganti, karena peran bassist dalam suatu band sangat penting, bisa dibilang jantungnya permainan. Saat itu Yodi menawarkan untuk mengisi posisi tersebut. Pikir saya,  kenapa tidak? Yodi adalah orang yang paling mengetahui ritme, aransemen, strategi bermusik kami saat itu selain kami bertiga. Akhirnya doi bergabung dengan kami, dan terus tumbuh bersama dalam band Escapees. Memang, pria random dan cengo ini adalah personil paling kontroversial di band. Dari awal bergabung, ia sudah banyak diragukan orang, karena saat direkrut, doi tidak punya basic bass sama sekali. Namun ia tidak mudah menyerah. Segala kritik, keraguan, jatuh dan bangun dihadapi orang ini. Saya dan Cavia jadi saksi perubahan permainan bass Yodi dari nol sampai jago banget sekarang. Kalo ada orang yang mencaci maki Yodi, saya akan jadi orang pertama yang akan membela dia. He deserves my appreciation. Dari segi musikalitas, referensi musik Yodi cukup beragam dan unik, tapi utamanya lebih ke alternative rock kalau saya lihat. Permainannya makin hari makin keren, punya ciri khas tone yang berbeda dari bassist lain. Kalau lagi "sableng" mainnya bisa super tight dan bassline yang dibuat jadi kreatif banget. Sebagai pribadi, orangnya memang suka bengong, pelit (hemat), nyentrik dan random, bisa punya ide diluar nalar manusia pada umumnya. Doi ini juga super sibuk, semua organisasi diembat sama dia. Doi juga punya koneksi yang luas banget. Saya jadi kenal banyak musisi Jogja karena dikenalin sama Yodi juga. Oh iya, Yodi ini juga punya bakat terpendam dalam dunia permalingan. Dulu saking kreatif dan punya mental menyusup, doi bisa membobol studio fakultas yang waktu itu kuncinya sedang hilang. Hati-hati lho kalian harus mengunci pintu rumah kalian rapat-rapat, jangan sampai dimasukkin Yodi, hiii. Terakhir dia pernah cerita pingin berusaha untuk menjadi dokter spesialis saraf, mari kita doakan teman-teman mudah-mudahan tercapai, amiin.

3. Winardi, Kibordis yang multitalent. Kenapa saya bilang multitalent? karena orangnya serba bisa. Bertahun-tahun kita berteman, doi sudah menunjukkan kepiawaiannya, seperti main kibor, drum, gitar, bass, sulap, marathon, komputer dan gadget, tamiya, bisnis, tau semua promo yang sedang berlangsung, dan masih banyak lagi. Mungkin masih banyak keahlian yang belum dia tunjukkan, siapa tahu dia bisa makan paku sambil marathon, main kibor pakai lubang hidung, atau menjilat siku sendiri. Winardi masuk ke Escapees tidak lama setelah Yodi bergabung. Saat itu, kami merasa perlu mengeksplor ranah musik dan memperlebar harmoni kami dengan menambah seorang kibordis. Agak kebingungan saat itu, karena kandidat dari teman angkatan kami yang bisa bermain kibor cukup banyak. Saat itu, kriteria kami adalah kibordis yang terbiasa main dalam band dan punya komitmen untuk tumbuh bersama dalam bermusik. Yodi mengusulkan nama Winardi, yang ia tahu sering terlibat dalam band PMKK (Persekutuan Mahasiswa Kristen Kedokteran). Akhirnya kita coba di studio untuk persiapan manggung di salah satu acara. Waktu itu saya cukup kaget, karena referensi musik orang ini unik sekali. Kebanyakan berasal dari musik klasik dan etnik Jawa. Tidak banyak lagu pop yang doi tahu kala itu. Akan tetapi, mungkin karena background referensinya, saya lihat teknik permainannya rapi dan lentur sekali. Dalam bermusik pun, dia menunjukkan passion yang tinggi. "Kalau orang ini bisa main jazz dan pop, ngeri sih" batin saya. Kelebihan dan potensinya ini membuat kami ingin mempertahankan Winardi, meskipun setelah hari pertama latihan ia tampak ogah-ogahan karena mungkin tidak cocok dengan gaya musik yang diluar zona nyaman. Kami terus meyakinkan Winardi bahwa ia bisa jauh lebih berkembang daripada sekarang. Setelah sedikit dipaksa-paksa dan dicekoki dengan berbagai referensi musik baru, akhirnya Winardi mulai membentuk ikatan dengan band ini. Saya dulu cukup getol dalam mendorong ia untuk latihan solo kibor jazz dengan memberi sejumlah referensi. The result was beyond my expectation. Ngeri banget. Winardi saat ini mungkin memiliki style bermusik paling unik di fakultas, yang sulit ditiru musisi lain. Gabungan klasik, etnik, jazz, pop, blues, membuat style permainannya punya ciri khas sendiri.
Sebagai pribadi, Winardi ini tipikal "anak baik" dan rohani sekali, meskipun agak jayus dan polos banget. Malangnya ia bergabung dengan kami, diracuni dengan berbagai macam joke dan hiburan "dewasa" hahahaha. Kadang ia kalem, tapi kadang bisa hiperaktif banget melawak terus. Seperti ada masa "bangkitan"nya. Winardi ini terakhir cerita sama saya sih ingin menjadi dokter spesialis anak, mudah-mudahan sukses mencapai impiannya yaa broh!

4. Nikko, personil yang paling baru masuk bareng sama Ocep. Saat itu Nikko menggantikan posisi drummer sebelumnya, Edit, karena harus bekerja di Jakarta. Sebelum itu, Nikko memang sering jadi drummer pengganti saat Edit sedang berhalangan tampil. Menurut saya, doi ini orang yang paling cepat adaptasinya dibanding personil lain.Secara musikalitas, doi punya referensi musik yang luas, dari berbagai genre, utamanya sepertinya lebih ke arah pop. Dalam main drum, mungkin orang ini bisa dibilang jenius, karena permainan drumnya asik dan terkontrol, meskipun tidak punya drum atau pun sticking pad di rumah. Edan batin saya, latihannya gimana itu. Dalam main drum, doi punya penekanan feel dan variasi emosi yang oke punyak, bisa menyesuaikan ke berbagai macam ritem musik. Doi memang sebelum kuliah sudah terbiasa main dalam band. Secara pribadi, orangnya asik, sabar dan ngelawak mulu, selera humornya mirip-mirip deh sama saya, hehehe. Doi juga cepet nyatunya sama personil band lain. Credits juga buat Nikko karena rumahnya sering dipake buat basecamp latihan kita yang pingin hemat uang latihan studio. Terakhir ngobrol sama doi, masih menimbang-nimbang keputusan untuk melanjutkan studinya, antara Bedah atau Urologi kalau tidak salah. Semoga segera dicerahkan dan lancar-lancar studinya pak!

5. Ocep, personil yang masuk bareng Nikko. Nama aslinya Yoseph, dia sering branding dirinya untuk dipanggil Tio, entah kenapa. Padahal lebih enak didengar "Ocep." Sebelum Ocep bergabung Escapees ini formatnya 5 personil, tanpa brass section. Kala itu, kami hendak mengikuti lomba akustik antar angkatan. Untuk memberi kesan dan warna yang berbeda, kami berniat merekrut satu orang brass section, awalnya ingin mengajak pemain saxophone, tetapi kami belum menemukan yang mahir memainkannya di angkatan. Saat itu tercetus nama Ocep di kepala saya. Ocep ini teman saya sejak SMP. Ia punya basic memainkan terompet, dan ikut terlibat dalam grup orkestra di SMP, SMA, hingga fakultas. Saat kami ujicoba latihan di studio pertama kali, hasilnya mengejutkan. Thanks God. Kehadiran tiupan terompet Ocep membuat musik kami terdengar lebih "mahal." Akhirnya, setiap kami manggung selalu mengajak Ocep, dan menjadi anggota tetap band ini. Keberadaan terompet pada musik kami, lama kelamaan tumbuh menjadi ciri khas. Selain terompet, Ocep juga memiliki basic keyboard. Ia sering mengiringi paduan suara fakultas, sehingga sudah sangat familiar dengan harmoni dan perpecahan suara. Dalam rekaman, Ocep berperan besar karena telinganya cukup detil dalam melacak harmoni suara dan pitch yang tidak sesuai. Sebagai pribadi, orangnya apa adanya, bokep, paling iseng di band, dan paling bikin suasana jadi rame. Orangnya moody, tetapi untuk urusan profesional, emosinya bisa dijaga dengan baik. Ia punya mimpi untuk menjadi dokter spesialis mata. Goodluck cep semoga tercapai yaa.

6. Edit, mantan drummer kami, yang harus hengkang dari band karena pindah ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Waktu Edit bergabung dengan grup ini tidak jauh dari direkrutnya Winardi. Saya dan Edit sebenarnya sudah bermain musik bersama jauh sebelum band ini terbentuk. Kami bertemu pertama kali saat harus mengisi penampilan band di acara donor darah di kampus. Band nya saat itu terbentuk dadakan dengan personil cabutan. Setelah itu, kami banyak main di acara komunitas musik fakultas. Saking seringnya kami main bersama, saya dan edit sudah punya chemistry dan kode-kode sendiri, bagaimana membangun mood lagu, kapan harus naik, kapan lagunya akan berhenti, dan lain-lain tanpa ada janjian sebelumnya. Akhirnya, ia diajak untuk menjadi drummer tetap di Escapees, selain karena sudah sering bermain bersama personil-personil band ini, ia juga mau meluangkan waktu dan menetapkan prioritas untuk band. Secara musik, gaya mainnya tidak terlalu banyak perubahan emosi, sederhana, stabil dan rapih. Karakter yang cocok untuk seorang session player. Secara pribadi, orangnya kalem, sabar, paling kebapakan,  dan tidak neko-neko. Ia seorang pakar gizi kesehatan, yang saat ini bekerja untuk salah satu perusahaan di Jakarta. Bisnisnya juga banyak, kalau tidak salah ada tusuk sate, laundry, sewa kost, serta dulu sempat berjualan risol yang sangat laris. Sukses terus yo, Dit!

Akhir kata, Thank God, yang mempertemukan saya dengan pribadi-pribadi positif ini. Hidup saya jadi jauh lebih berwarna. Bersama mereka, saya tumbuh dan belajar. Belajar bermusik, kepemimpinan, menyatukan isi kepala yang berbeda-beda, meng-handle ketegangan saat di panggung, pantang menyerah dalam menggapai tujuan, dan masih banyak lagi. Di atas panggung, maupun di luar panggung, rasanya luar biasa bersinergi dengan mereka. Saya tidak tahu kapan bisa bertemu orang-orang keren ini lagi. Semuanya sedang mengejar mimpinya masing-masing. Doa saya, agar mereka selalu menikmati proses dan perjalanan hidup ini dan tidak pernah berhenti bermusik. Terima kasih, dan sampai jumpa lagi, kawan!

Comments

Popular posts from this blog

For Meds : Suara Jantung

Nada Berkelas Rendy Pandugo : Review album "the Journey (2017)"

Reinterpretasi Musik sang Maestro; Review Album Detik Waktu : Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018)